Penggembalaan Digital Berbasis Internet Counselling Pastoral Relationship Follower dalam Gereja Kontemporer
Keywords:
Pengembalaan Digital, ICPRF, Teknologi Informasi, Gereja KontemporerAbstract
Abstract: Digital developments in church life require the emergence of new pastoral approaches, which can adapt to changing communication methods and the increasingly diverse needs of congregational support. The Internet Counselling Pastoral Relationship Follower (ICPRF) is a digital pastoral care model that utilises technology to facilitate more structured and sustainable pastoral relationships. This research uses a literature review and case study analysis of the GPM (Global Missionary Movement) to examine the theological foundations and practical implementation of ICPRF in the context of contemporary church ministry. The analysis shows that, although ICPRF offers efficiency and continuity of care, this model still raises questions regarding pastoral presence, data ethics, and the authenticity of relationships in the digital space. As a contribution, this approach offers a theological and ethical framework for implementing ICPRF, which churches can use to develop a form of digital pastoral care that is responsible, contextual, and remains true to the essence of pastoral care.
AbstrakPerkembangan digital dalam kehidupan gereja mengharuskan munculnya pendekatan pastoral yang baru, yang mampu beradaptasi dengan perubahan cara berkomunikasi serta kebutuhan pendampingan jemaat yang semakin beragam. Internet Counseling Pastoral Relationship Follower (ICPRF) adalah model penggembalaan digital yang memanfaatkan teknologi untuk memfasilitasi relasi pastoral secara lebih terstruktur dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dan analisis studi kasus GPM untuk menelaah landasan teologis dan praktik implementasi ICPRF dalam konteks pelayanan gereja kontemporer. Hasil analisis menunjukkan bahwa, meskipun ICPRF menawarkan efisiensi dan kontinuitas pendampingan, model ini tetap menyisakan pertanyaan mengenai kehadiran pastoral, etika data, dan autentisitas relasi dalam ruang digital. Sebagai kontribusi, pendekatan ini menawarkan kerangka teologis dan etis untuk implementasi ICPRF, sehingga dapat digunakan gereja dalam mengembangkan bentuk penggembalaan digital yang bertanggung jawab, kontekstual, dan tetap setia pada esensi pelayanan pastoral
References
Manjaruni, M. I. (2013). e-CRM-Based Pastoral Counseling Model (Case Study: Maluku Protestant Church).
Manjaruni, M. I. (2023). Internet Counseling Pastoral Relationship Follower Early Detection Data Process (ICPRF). Prosiding 2nd International Conference on Social Science (ICSS) 2(2): 78-82.
Sinode GPM (2021). iCPRF, aplikasi pelaksanaan pendampingan pastoral gereja berbasis internet. Dalam Jawab 4.0 GPM Gelar Rakon Online (laporan Rapat Konsultasi Sinode GPM 2021). Ambon: Sinode GPM.
Waruwu, F. S. (2024). “Peran Pelayanan Pastoral pada Era Perkembangan Teknologi.” Jurnal Shema: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 7(02): 44-57.
Rangga, A. F., OFM (2024). Pastoral Digital: Pendekatan Komunikasi dan Teologi Pastoral. Yogyakarta: Kanisius.
Sastrowardoyo, A., dkk. (2021). “The Priority of the Church’s Ministry during a Pandemic: Embracing Digital Technology for Evangelism and Discipleship.” Epigraphe: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani 5(2): 162-174.
Erista.io (2024a). “Mengamankan Data Privasi Gereja dengan ChMS.” Erista Church Tech Blog, 5 Okt 2024.
Erista.io (2024b). “Etika Digital dalam Penggunaan Aplikasi Gereja.” Erista Church Tech Blog, 25 Jun 2024.
SABDA Live (2020). “Bahaya Gereja Digital (Analisis SWOT).”
SABDA Live (2022). “GoTECH! Penggembalaan Digital!” Artikel SABDA Live
Hosea, A., dkk. (2024). “Digital Ecclesiology: Mengadaptasi Pembinaan Gereja di Dunia Digital.” Magnum Opus: Jurnal Teologi 5(2): 78-88.
Izak Y. M. Lattu, Maryo Indra Manjaruni, Sub Tema Sinode GPM ; Membangun Gereja yang Memiliki Ketahanan dan Daya Juang Demi Kualitas Hidup Bersama di Tengah Pergumulan Pandemi Covid-19 dan Transformasi Digital, MPL 42 di Jemaat GPM Elat Klasis Kei Besar, 2022.



