DAYA WACANA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
https://jurnal.gpipapua.org/index.php/dw
<p data-start="0" data-end="573"><strong data-start="0" data-end="56">Daya Wacana: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani</strong> adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh <strong data-start="100" data-end="143" data-is-only-node="">Sekolah Tinggi Teologi GPI Papua Fakfak</strong> sebagai wadah pengembangan dan diseminasi kajian teologis serta pendidikan Kristiani yang kritis, kontekstual, dan relevan dengan dinamika gereja dan masyarakat. Jurnal ini terbit secara berkala <strong data-start="339" data-end="359">dua kali setahun</strong>, pada bulan <strong data-start="372" data-end="380">Juni</strong> dan <strong data-start="385" data-end="397">Desember</strong>, serta dikelola dengan standar akademik melalui sistem <strong data-start="453" data-end="476">double blind review</strong> untuk menjamin kualitas, objektivitas, dan integritas ilmiah setiap artikel yang dipublikasikan.</p> <p data-start="575" data-end="1063" data-is-last-node="" data-is-only-node="">Jurnal ini ditujukan bagi <strong data-start="601" data-end="645">dosen, peneliti, akademisi, dan praktisi</strong>, baik dari dalam maupun luar kampus, yang memiliki perhatian pada pengembangan ilmu teologi dan pendidikan Kristiani. Melalui <strong data-start="772" data-end="787">Daya Wacana</strong>, diharapkan tercipta ruang dialog akademik yang konstruktif, mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran reflektif dan transformatif, serta memberikan kontribusi nyata bagi penguatan keilmuan, pelayanan gerejawi, dan pendidikan Kristiani dalam konteks lokal, nasional, dan global.</p>Sekolah Tinggi Teologi GPI Papua Fakfaken-USDAYA WACANA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani3123-8653Tetapi Kamu tidak Berbalik Kepada-Ku: Analisis Sastra Puisi Klimatik Amos 4:6-11 sebagai Bentuk Disiplin Allah
https://jurnal.gpipapua.org/index.php/dw/article/view/8
<p><strong><em>Abstract: </em></strong><em>The writing of Amos 4:6-11 is an additional story of God's actions in the past through the writing of the judgment given to Israel. Each form of judgment begins with an appeal to what God does, with the conclusion that every judgment comes from His word. In the literary layer, Amos 4:6-11 reaffirms the series of punishments in the form of climactic literature. There are several opinions on this climactic literary interweaving by observing the use of divine words that affirm the context of past judgment. Similarly, the use of the word repetitious as part of the climactic literature that Israel does not want to turn to God. Through the affirmation of this phrase, there is an understanding as if God places Himself responsible for the past condemnation that Israel experienced. The research method in this paper is an analysis of poetry and climactic literature to raise awareness and meaning of poetry literature as a theological reflection. The purpose of this writing is to explore a form of artistic expression that uses poetry to highlight issues of human action before God. The results of this research are to explain the form of Allah's punishment as part of education for the ummah. Through comparison with the previous two publications, there are several aspects of novelty in the article. The first is the scope of the text being studied, which focuses on verses 6-11 only. The second is the entity of the nation being studied, namely the nation of Israel. The third is the research method used, namely, with a hermeneutic approach to climactic poetry literature.</em></p> <p><strong>Abstrak: </strong>Tulisan Amos 4:6-11 merupakan tambahan cerita mengenai tindakan Allah pada masa lalu melalui penulisan penghukuman yang diberikan kepada Israel. Setiap bentuk penghukuman dimulai dengan seruan apa yang dilakukan Allah dengan kesimpulan bahwa setiap penghukuman berasal dari perkataan-Nya. Pada bagian lapisan sastra Amos 4:6-11 menegaskan kembali seri penghukuman berupa sastra yang bersifat klimatik. Terdapat beberapa pendapat mengenai jalinan sastra klimatik ini dengan memerhatikan penggunaan kata-kata ilahi yang menegaskan konteks penghukuman masa lalu. Demikian pula penggunaan kata repetitif sebagai bagian dari sastra klimatik bahwa Israel tidak mau berbalik kepada Allah. Melalui penegasan frasa tersebut terdapat pemahaman seolah-olah Allah menempatkan diri-Nya yang bertanggung jawab untuk penghukuman masa lalu yang dialami Israel. Metode penelitian dalam tulisan ini adalah analisis sastra klimatik puisi untuk rmembangkitkan kesadaran dan pemaknaan sastra puisi sebagai refleksi teologi. Tujuan penulisan ini untuk menggali bentuk ekspresi artistik yang menggunakan puisi untuk menyoroti isu-isu tindakan manusia di hadapan Allah. Hasil penelitian ini untuk menjelaskan bentuk penghukuman Allah sebagai bagian didikan bagi umat. Melalui pembandingan dengan dua publikasi sebelumnya, maka ada beberapa aspek kebaruan dalam artikel. Pertama ialah cakupan teks yang diteliti, yakni berfokus pada ayat 6-11 saja. Kedua ialah entitas bangsa yang diteliti, yakni bangsa Israel. Ketiga ialah metode penelitian yang dipakai, yakni dengan pendekatan hermeneutik sastra puisi klimatik</p>Maria Evvy Yanti
Copyright (c) 2025 DAYA WACANA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
2025-12-142025-12-1411114Pendidikan Pembebasan Kritis Paulo Freire dan Transformasi Pendidikan Anak Perempuan Suku Baham Mata di Papua Barat
https://jurnal.gpipapua.org/index.php/dw/article/view/2
<p><strong><em>Abstract: </em></strong>The Mbaham Matta tribe tribes <em>found in Fakfak Regency, Papua, places women as guardians of customary order and successors of lineage. However, this cultural role has resulted in low priority for formal education among girls. This research analyses the relevance of Paulo Freire’s critical liberation education to promote education transformation for the Mbaham Matta girls. The method employed is </em><em>qualitative research with a literature review approach and critical analysis of cultural practices and Freire’s e</em><em>ducational theory. The findings indicate that the oppression of girls is rooted in traditional cultural values that limit access to education. Liberation education can be implemented through the development of critical consciousness, participatory dialogue, and curriculum contextualization that integrates local values with gender e</em><em>quality principles.</em><em> Education transformation in the Mbaham Matta community needs to be pursued through women’s empowerment and holistic community capacity strengthening. This research affirms that the Freirean approach has relevance in indigenous communities that still practice patriarchal value systems. </em></p> <p><strong>Abstrak: </strong>Suku Mbaham Matta di Kabupaten Fakfak, Papua Barat menempatkan perempuan sebagai penjaga tatanan adat dan penerus garis keturunan. Namun peran budaya tersebut berdampak pada rendahnya prioritas pendidikan formal bagi anak perempuan. Penelitian ini mengalisis relevansi pendidikan pembebasan kritis Paulo Freire untuk mendorong transformasi pendidikan bagi anak perempuan Suku Mbaham Matta. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisis kritis terhadap praktek budaya dan teori pendidikan Freire. Hasil penelitian menunjukan bahwa ketertindasan anak perempuan berakar pada nilai-nilai budaya tradisional yang membatasi akses pendidikan. Pendidikan pembebasan dapat diimplementasikan melalui pengembangan kesadaran kritis, dialog partisipatif dan kontekstualisasi kurikulum yang mengintegrasikan nilai lokal dengan prinsip kesetaraan gender. Transformasi pendidikan dalam komunitas Mbaham Matta perlu ditempuh melalui pemberdayaan perempuan dan penguatan kapasitas komunitas secara holistik. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan Freirean memiliki relevansi dalam masyarakat adat yang masih mempraktikkan sistem nilai patriarkal</p>Lindra Yolanda Camerling
Copyright (c) 2025 DAYA WACANA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
2025-12-142025-12-14111540Misi Kristen Holistik dalam Konteks Pluralisme Indonesia: Refleksi atas Pelayanan Yesus Kristus
https://jurnal.gpipapua.org/index.php/dw/article/view/3
<p><strong><em>Abstract: </em></strong><em>Indonesia, as a pluralistic nation, faces a range of complex challenges, from religious intolerance to issues of poverty, social injustice, and environmental degradation that significantly affect the well-being of its people. These conditions call for an understanding of Christian mission that is not merely spiritual, but also responsive to the concrete needs and socio-ecological problems present within society. This study aims to explore and reflect on a holistic Christian mission within the context of Indonesian pluralism by drawing upon the ministry and example of Jesus Christ. Employing a qualitative method through a literature-based approach, this research examines theological, missiological, and socio-cultural sources to achieve a deeper comprehension of mission implementation. The findings reveal that the ministry of Jesus is inclusive, transformative, and oriented toward the holistic restoration of humanity and creation, thus providing a theological foundation for a Christian mission relevant to the Indonesian context. Consequently, Christian mission must be embodied in practical actions that address the needs of a plural society, including the fulfillment of basic necessities, healthcare services, empowerment of the poor, environmental stewardship, and the cultivation of peaceful interreligious relationships</em></p> <p><strong>Abstrak: </strong>Indonesia sebagai bangsa plural menghadapi berbagai tantangan yang kompleks, mulai dari intoleransi antarumat beragama hingga persoalan kemiskinan, ketidakadilan sosial, serta kerusakan lingkungan yang memengaruhi kualitas hidup masyarakat. Kondisi ini menuntut pemahaman misi Kristen yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga responsif terhadap kebutuhan nyata dan problem sosial-ekologis yang dihadapi masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengkaji dan merefleksikan misi Kristen yang holistik dalam konteks pluralisme Indonesia dengan merujuk pada teladan pelayanan Yesus Kristus. Melalui metode kualitatif berbasis studi pustaka, penelitian ini menelaah berbagai literatur teologis, misiologis, dan konteks sosial Indonesia untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. Hasil kajian menunjukkan bahwa pelayanan Yesus bersifat inklusif, transformatif, dan berorientasi pada pemulihan manusia serta ciptaan secara utuh, sehingga menjadi dasar teologis bagi implementasi misi Kristen yang relevan di Indonesia. Dengan demikian, misi Kristen perlu diwujudkan melalui tindakan nyata yang menjawab kebutuhan masyarakat plural, seperti pemenuhan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, pemberdayaan kaum miskin, pemeliharaan lingkungan, serta pembangunan relasi damai antaragama.</p>Florence Peea
Copyright (c) 2025 DAYA WACANA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
2025-12-142025-12-14114159Penggembalaan Digital Berbasis Internet Counselling Pastoral Relationship Follower dalam Gereja Kontemporer
https://jurnal.gpipapua.org/index.php/dw/article/view/4
<p><strong><em>Abstract: </em></strong><em>Digital developments in church life require the emergence of new pastoral approaches, which can adapt to changing communication methods and the increasingly diverse needs of congregational support. The Internet Counselling Pastoral Relationship Follower (ICPRF) is a digital pastoral care model that utilises technology to facilitate more structured and sustainable pastoral relationships. This research uses a literature review and case study analysis of the GPM (Global Missionary Movement) to examine the theological foundations and practical implementation of ICPRF in the context of contemporary church ministry. The analysis shows that, although ICPRF offers efficiency and continuity of care, this model still raises questions regarding pastoral presence, data ethics, and the authenticity of relationships in the digital space. As a contribution, this approach offers a theological and ethical framework for implementing ICPRF, which churches can use to develop a form of digital pastoral care that is responsible, contextual, and remains true to the essence of pastoral care.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong>Perkembangan digital dalam kehidupan gereja mengharuskan munculnya pendekatan pastoral yang baru, yang mampu beradaptasi dengan perubahan cara berkomunikasi serta kebutuhan pendampingan jemaat yang semakin beragam. <em>Internet Counseling Pastoral Relationship Follower</em> (ICPRF) adalah model penggembalaan digital yang memanfaatkan teknologi untuk memfasilitasi relasi pastoral secara lebih terstruktur dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dan analisis studi kasus GPM untuk menelaah landasan teologis dan praktik implementasi ICPRF dalam konteks pelayanan gereja kontemporer. Hasil analisis menunjukkan bahwa, meskipun ICPRF menawarkan efisiensi dan kontinuitas pendampingan, model ini tetap menyisakan pertanyaan mengenai kehadiran pastoral, etika data, dan autentisitas relasi dalam ruang digital. Sebagai kontribusi, pendekatan ini menawarkan kerangka teologis dan etis untuk implementasi ICPRF, sehingga dapat digunakan gereja dalam mengembangkan bentuk penggembalaan digital yang bertanggung jawab, kontekstual, dan tetap setia pada esensi pelayanan pastoral</p>Maryo Indra Manjaruni
Copyright (c) 2025 DAYA WACANA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
2025-12-142025-12-14116073Pestalozzi dan Pendidikan Karakter Kristiani: Implementasinya dalam Pembelajaran PAK
https://jurnal.gpipapua.org/index.php/dw/article/view/6
<p><strong><em>Abstract: </em></strong><em>The</em><em> implementation of education in schools is still shackled by knowledge transfer or </em><em>focusing on cognitive skills only. This provides an understanding that students only need to have qualified knowledge for their future. Some understand that knowledge can bring material to students. Some understand that education is not only about achieving student achievements. The purpose of writing this article is to build a balance of knowledge and skills and to know and feel God's presence in our lives together, both in the family, school, church and community. This effort was made by writing and analysing the thoughts of a PAK member, Johann Heinrich Pestalozzi, on PAK learning in Christian schools. The method used is descriptive analysis. After going through a critical study, the result of this paper is that PAK learning practices are integrated in the aspects of humanity, love, and character. to build the values of common life as a form of loving God and neighbour in the relationship of home, church and school.</em></p> <p><strong>Abstrak: </strong>Pelaksanaan pendidikan di sekolah-sekolah masih terbelenggu dengan transfer pengetahuan atau berfokus secara kognitif saja. Hal ini memberikan pemahaman bahwa peserta didik hanya perlu memiliki pengetahuan yang mumpuni untuk bekal masa depan mereka. Ada yang memahami bahwa pengetahuan yang dapat mendatangkan materi bagi peserta didik. Ada pula yang memahami bahwa pendidikan hanya untuk mencapai prestasi peserta didik. Tujuan penulisan artikel ini untuk membangun keseimbangan pengetahuan dan keterampilan serta mengenal dan merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan bersama baik di keluarga, sekolah, gereja dan masyarakat. Usaha ini dilakukan dengan menulis dan menganalisis pemikiran seorang ahli PAK Johann Heinrich Pestalozzi dalam pembelajaran PAK di sekolah-sekolah Kristen. Metode yang dipergunakan adalah analisis deskriptif. Setelah melalui kajian kritis, hasil dari tulisan ini bahwa praktik pembelajaran PAK yang terintegrasi dalam aspek kemanusiaan, kasih, dan karakter.untuk membangun nilai-nilai kehidupan bersama sebagai bentuk mengasihi Allah dan sesama dalam relasi rumah, gereja dan sekolah</p>Renata Manuela RumopaVilia Dwi Okthavia Laubura
Copyright (c) 2025 DAYA WACANA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
2025-12-142025-12-14117486Menanamkan Toleransi: Peran Strategis Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Membentuk Karakter Multikultural di Sekolah
https://jurnal.gpipapua.org/index.php/dw/article/view/1
<p><strong><em>Abstract: </em></strong><em>This study aims to understand the role of Christian Religious Education teachers in addressing intolerance in schools through a qualitative approach that is more closely aligned with everyday experiences. In an increasingly diverse multicultural environment, the role of teachers goes beyond simply teaching religious concepts; they also serve as guides in shaping tolerant students' character. This research was conducted in several schools that integrate the Christian Religious Education curriculum, collecting data through in-depth interviews and observations of classroom interactions. The results indicate a gap in the implementation of the role of Christian Religious Education teachers in instilling tolerance effectively in schools, the challenges faced in the field, and the solutions successfully implemented. This paper is expected to inspire educators and policymakers about the importance of the role of Christian Religious Education teachers, who directly interact with students by creating a safe, peaceful, and inclusive school environment. This will create a generation with a high level of tolerance in a multicultural society.</em></p> <p><strong>Abstrak: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran guru Pendidikan Agama Kristen dalam mengatasi sikap intoleransi di sekolah melalui pendekatan kualitatif yang lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari. Dalam lingkungan multikultural yang semakin beragam, peran guru melampaui sekadar mengajarkan konsep agama; mereka juga berfungsi sebagai pemandu dalam membentuk karakter siswa yang toleran. Penelitian ini dilakukan di beberapa sekolah yang mengintegrasikan kurikulum Pendidikan Agama Kristen, dengan mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dan observasi interaksi di kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan dalam implementasi peran guru PAK dalam menanamkan toleransi di sekolah, tantangan yang dihadapi di lapangan, dan solusi yang berhasil diterapkan. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi pendidik dan pembuat kebijakan tentang pentingnya peran guru PAK yang berkaitan langsung dengan peserta didik dengan menciptakan lingkungan sekolah yang aman, damai dan inklusif. Dengan demikian akan tercipta generasi yang memiliki karakter dengan toleransi tinggi di tengah masyarakat multicultural.</p>Dinda Juliantika Gloria Br TariganJohanes Waldes Hasugian
Copyright (c) 2025 DAYA WACANA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
2025-12-142025-12-14118799